bergasfarm – Fenomena yang tak terduga telah terjadi beberapa tahun terakhir di wilayah gurun tandus Arab Saudi—tanah yang selama ini dikenal dengan suhu panasnya yang ekstrim dan pemandangan gurun pasir yang luas. Namun, dalam beberapa waktu belakangan ini, fenomena yang disebut “Arab Saudi Menghijau” mulai terlihat, mengubah wajah negara yang sebelumnya didominasi oleh pasir dan keringnya tanah. Hal ini menjadi sorotan dunia, karena Arab Saudi yang biasanya dikenal dengan iklim gurunnya kini memiliki kawasan hijau yang memukau dan subur. Mengapa fenomena ini terjadi, dan apa dampaknya bagi masa depan Arab Saudi dan dunia? Simak ulasan lengkapnya.
Penyebab Arab Saudi Menghijau
Fenomena Arab Saudi menghijau tidak terjadi begitu saja; ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan signifikan ini. Salah satu faktor utama adalah inisiatif nasional Saudi Green Initiative (SGI) yang diluncurkan pada tahun 2021. SGI bertujuan untuk memerangi perubahan iklim dengan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan keberlanjutan alam di Arab Saudi. Program ini termasuk penanaman lebih dari 10 miliar pohon di seluruh wilayah Arab Saudi dalam beberapa dekade mendatang, serta pemulihan kawasan hutan dan padang rumput yang terdegradasi.
Inisiatif ini juga mendorong perubahan besar dalam pengelolaan sumber daya alam Arab Saudi. Program Greening Saudi, yang menjadi bagian dari SGI, bertujuan untuk mengubah sebagian besar kawasan gurun menjadi lebih hijau, dengan menanam pohon-pohon yang dapat bertahan di iklim gurun, seperti pohon akasia dan tanaman kaktus yang tahan terhadap kekeringan.
Namun, selain inisiatif pemerintah yang ambisius, curah hujan yang lebih tinggi juga menjadi faktor kunci dalam perubahan lanskap ini. Arab Saudi yang biasanya mengalami curah hujan sangat rendah kini mengalami musim hujan yang lebih intens. Hal ini telah memicu tumbuhan liar dan tanaman lainnya untuk bermekaran di berbagai wilayah, menciptakan pemandangan yang jarang terjadi sebelumnya di kawasan gurun tersebut.
Dampak Arab Saudi Menghijau
Peningkatan kawasan hijau di Arab Saudi memiliki dampak yang sangat signifikan, baik secara ekologis maupun sosial. Salah satu contoh mencolok adalah peningkatan luas kawasan hijau di kota Mekkah. Dalam kurun waktu lima bulan terakhir, kawasan hijau di kota suci ini meningkat lebih dari 600 persen. Tanaman hijau kini menghiasi area sekitar masjid, serta di sepanjang jalan utama, menciptakan pemandangan yang sangat berbeda dari kondisi sebelumnya yang panas dan kering.
Di kawasan Pegunungan Arab Saudi, pemandangan yang lebih hijau juga muncul setelah badai besar yang melanda Mekkah. Badai ini menyebabkan tanaman dan pohon yang sebelumnya tersembunyi di balik gurun pasir bermekaran, menciptakan sebuah pemandangan subur yang menghijaukan seluruh pegunungan. Hal ini tentu saja memberikan dampak positif bagi ekosistem lokal dan kualitas udara, serta memberikan manfaat ekonomi bagi sektor pariwisata yang dapat memanfaatkan daya tarik pemandangan alam yang baru ini.
Persepsi Arab Saudi Menghijau
Namun, fenomena Arab Saudi yang menghijau ini tidak selalu diterima dengan pandangan positif oleh semua pihak. Beberapa kalangan melihat fenomena ini dengan rasa takut dan kekhawatiran. Ada yang menganggap perubahan drastis ini sebagai tanda-tanda kiamat, terutama di kalangan masyarakat yang memiliki pandangan keagamaan yang lebih konservatif. Dalam Islam, fenomena alam yang luar biasa, termasuk tanah yang tiba-tiba menghijau di wilayah gurun, sering kali dianggap sebagai salah satu tanda mendekatnya hari kiamat, yang disebutkan dalam beberapa hadits sebagai peringatan akan datangnya hari akhir.
Pandangan ini muncul karena dalam tradisi Islam, adanya perubahan besar dalam alam semesta, seperti tanah yang sebelumnya kering dan tandus tiba-tiba menjadi subur, dianggap sebagai tanda bahwa waktu akhir zaman semakin dekat. Beberapa orang meyakini bahwa fenomena alam semacam ini adalah manifestasi dari perubahan yang lebih besar yang akan terjadi dalam skala global.
Namun, para ilmuwan dan ahli lingkungan memiliki pandangan berbeda mengenai fenomena ini. Mereka melihatnya lebih sebagai dampak dari perubahan iklim yang lebih besar yang sedang terjadi di seluruh dunia, termasuk di wilayah Timur Tengah. Meningkatnya suhu global dan perubahan pola cuaca dapat mempengaruhi curah hujan, dan dalam kasus ini, peningkatan curah hujan di Arab Saudi menjadi faktor utama mengapa tanah yang sebelumnya tandus kini mulai hijau.
Bukti Ilmiah Arab Saudi Pernah Hijau
Menariknya, bukti ilmiah menunjukkan bahwa Jazirah Arab yang kini didominasi oleh gurun pasir pernah mengalami periode ketika ia lebih hijau dan subur. Sejarah geologis menunjukkan bahwa ribuan tahun yang lalu, wilayah ini bukanlah gurun, tetapi area yang dipenuhi dengan danau, sungai, dan kehidupan liar yang melimpah. Penelitian paleoklimatologi mengungkapkan bahwa pada zaman es terakhir, sekitar 10.000 hingga 20.000 tahun yang lalu, kawasan Arab Saudi pernah menjadi wilayah yang hijau dan subur dengan banyak danau dan sungai yang mengalir.
Peningkatan curah hujan yang terjadi belakangan ini mengingatkan pada masa lalu tersebut, di mana kawasan gurun Arab Saudi pernah mengalami fase zaman es. Curah hujan yang sangat intens telah menyebabkan pembentukan ribuan danau dan kolam, serta menghidupkan kembali oasis dan lahan basah yang sempat menghilang. Fenomena ini juga membawa dampak positif bagi biodiversitas, memungkinkan tanaman dan hewan yang sebelumnya tidak dapat bertahan hidup di gurun, kini dapat berkembang biak dengan lebih baik.
Kesimpulan
Fenomena Arab Saudi yang menghijau bukan hanya sebuah kejadian alam yang menarik perhatian dunia, tetapi juga menjadi simbol dari upaya besar yang dilakukan oleh pemerintah Saudi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Inisiatif nasional Saudi Green Initiative (SGI) yang diluncurkan pada 2021 telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan ini. Program penghijauan ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan bagi negara.
Namun, fenomena ini juga menimbulkan perbedaan pandangan, terutama dalam konteks keagamaan dan kepercayaan yang berkembang di kalangan masyarakat. Beberapa orang melihat perubahan ini sebagai pertanda mendekatnya kiamat, sementara yang lain menganggapnya sebagai bukti nyata bahwa perubahan iklim sedang berlangsung di dunia ini.
Terlepas dari pandangan tersebut, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Jazirah Arab pernah hijau di masa lalu memberikan perspektif yang lebih luas tentang potensi perubahan alam di kawasan ini. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim dan upaya penghijauan yang dilakukan, fenomena Arab Saudi menghijau ini dapat menjadi contoh bagaimana upaya keberlanjutan dan pengelolaan alam yang baik dapat mengubah lanskap suatu wilayah dan memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia dan alam.